Komunitas Marching Band Indonesia

Hai, MB mania.... Selamat Bergabung di forum komunitas marching band ini, Mendaftarnya gampang kok,cukup masukin nama akun yang kamu suka dan password aja. atau gunakan akun facebook kamu untuk login juga bisa.Jangan lupa kasih LIKE juga yaaa dan kamu bisa follow juga networkblognya di facebook cukup dengan klik tombol Follow this blog. just enjoy the forum..!

Login

Lupa password?

MBgaul on facebook

Buat yang ingin dapet kiriman posting terbaru lewat facebook follow aja blognya !

Top posters

Admin (38)
 
emadeus (38)
 
pengrajin_marchingband (34)
 
QuintTommers (27)
 
uyakuya (13)
 
erlina indri (10)
 
nurmuhammad (5)
 
moelyandi (4)
 
adhismart (3)
 
n'cep (3)
 

June 2017

MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Calendar Calendar


    Tips”3K” (by Marko Sebira)

    Share
    avatar
    emadeus
    Komandan Gaul
    Komandan Gaul

    Jumlah posting : 38
    Points : 2376
    Reputasi : 0
    Join date : 13.03.11

    Tips”3K” (by Marko Sebira)

    Post by emadeus on March 14th 2011, 4:21 pm

    [url=http://library.marchingband.web.id/2002/06/10/tips3k/]Tips”3K”[/url]

    Posted in Brass on Jun 10th, 2002
    Banyaknya artikel yang muncul di website-website ini menambah
    semarak perbendaharaan kita dalam bermain musik. Demikian juga
    bahan-bahan bacaan yang ditawarkan berbagai ahli dalam bermain alat
    tiup, mengingat kompleksnya cara bermain dan cara merawat alat tersebut.
    Namun sampai sejauh mana kemampuan kita bermain trumpet dan apakah
    kemampuan kita sudah bisa dikatakan cukup sebagai pemain trumpet? Dalam
    artikel ini saya akan mencoba untuk tidak mengulas secara teknis
    permainan tiup, namun lebih kepada rutinitas dan intropeksi kemampuan
    kita.
    Barangkali saya tidak bisa disamakan dengan Mas Eric Awuy yang kita
    kenal pemain trumpet handal dengan background pendidikan musik dari
    luar. Tujuan penulisan ini hanyalah memberi opini bagaimana cara
    meningkatkan kemampuan para pemain tiup di lingkungan marching band di
    Indonesia, mengingat bisa dibilang, kemampuan para pemain kita masih
    dibawah rata-rata standar pemain trumpet di dunia.
    Saya pernah mengikuti World Music Contest 1997 di Kerkrade, Belanda,
    bersama unit saya. Ketika itu skill tiup pasukan saya masih sangat
    rendah, berikut peralatan tiup yang tidak memadai. Dengan berbekal modal
    semangat, kami pun berlaga dan bertanding dengan unit-unit di Eropa,
    Amerika dan Asia. Hasilnya cukup memuaskan, namun yang saya sedihkan
    adalah para juri, khususnya juri brass memberi opini/pendapat dan
    menilai bahwa kualitas brass kami sangat buruk, terutama pada Tuning dan
    Artikulasi. Betapa sedihnya kami dan juga saya yang telah habis-habisan
    berlatih menguasai semua lagu dengan sedetail mungkin (menurut kami)
    dan hanya diberi nilai rata-rata 6.5 untuk bagian brass section. Juripun
    mendapat score/partitur lagu-lagu yang kami mainkan, sehingga dengan
    mudah dapat menilai dan memberi saran.
    Sekembalinya kami dari Belanda dan setelah saya menilai pribadi
    mengenai kompetitor-kompetitor disana, memang kemampuan mereka jauh
    diatas band kita. Dari kualitas suara, tuning, artikulasi dan cara
    bermainnya, kemampuan mereka memang layak mendapatkan juara. Namun yang
    diherankan oleh saya, band-band yang berasal dari Thailand banyak yang
    memperoleh nilai tinggi, bahkan mengalahkan band di Belanda. Dan mereka
    juga mempunyai kualitas tiupan yang tidak bisa dianggap remeh. Hal ini
    diperkuat ketika saya berada di ChiangMai, Thailand bulan Desember 2001
    kemarin, yang ketika itu saya melihat secara dekat konser Marching Band
    Chiang Mai College (SMU). Artikulasi dalam bermain, sangat sangat bersih
    dan lagu ‘Jingle Bells’ yang dimainkan, benar-benar ‘Jingle Bells’
    seperti di kaset. Pertanyaan kemudian muncul: Mengapa Band di Indonesia
    belum bisa demikian?
    Dari artikel saya sebelumnya telah dibahas mengenai kecenderungan
    pemain marching band kita dalam membawakan lagu. Kebanyakan dari mereka
    adalah Tuning, Artikulasi, dan, Long Notes. Dengan memakai analogi pada
    artikel saya sebelumnya, bernyanyi lagu ‘Yamko Rambe Yamko’ dengan
    suara, artikulasi berbeda menyebabkan pembawaan lagu yang kurang dapat
    diminati.
    Apakah semua ini berawal dari kurangnya latihan meniup? Bisa jadi,
    mengingat banyaknya band-band di Indonesia yang memberlakukan system
    ‘karbit’ dimana pemain baru ‘dipaksakan’ untuk bermain dan mengikuti
    para seniornya dalam memainkan lagu. Hal ini berakibat kurang
    terbentuknya ‘embouchure’ atau istilah kita ambasir pemain. Tiupanpun
    menjadi kurang berkualitas.
    Namun apabila hampir semua band di Indonesia banyak melakukan hal
    yang sama, apakah ada cara lain untuk meningkatkan kemampuan pemain
    dengan waktu yang sempit? Barangkali memungkinkan, jika terdapat program
    dan waktu latihan yang jelas dan efisien. Mungkin kebanyakan dari kita
    adalah meniru apa yang dicontohkan para seniornya, sehingga terbentuk
    metode pengajaran turun temurun. Namun perlu diingat dalam cara
    pengajaran ini bahwa apabila sang senior mengajarkan kepada juniornya
    tentang teknik yang menurut dia baik, belum tentu dapat diterima dengan
    baik oleh sang junior. Sehingga bisa jadi pengajaran teknik meniup malah
    tidak efektif.
    Yang diperlukan dalam mengajarkan tehnik meniup yang benar adalah
    kesabaran, keuletan dan kerajinan, antara pengajar dan pemain. Ada
    kalanya sang junior yang sangat ingin menyamai dengan seniornya, mencoba
    meniup nada-nada tinggi yang menurut hemat saya sangat tidak
    menguntungkan bagi dirinya. Kecenderungan ingin menonjolkan ego
    menyebabkan para pemain kurang sabar dalam melatih apa yang disebut
    ‘Basic of Playing Trumpet’. Kisah ini banyak saya temui ketika para
    pemain baru sudah dapat mendapatkan suara yang menurut mereka suara
    trumpet. Apalagi ketika itu harus menyelesaikan lagu dengan waktu yang
    sempit. Dengan menambah kesabaran dalam melatih not-not panjang dan
    not-not dasar/bawah, bisa diperoleh hasil yang cukup memuaskan. Berikut
    salah satu komentar seseorang tentang cara meniup tinggi yang efektif
    (Callet, 2002):
    “Ever since I heard Buddy Rich’s band live at the age of 13, I have
    wanted to play double high C at the time, I did not know a trumpet could
    be played so high. Well that day has come !!! 3 days ago, I spent 30
    minutes playing low to mid range exercises and melodies. At some point, I
    pulled out my lead charts and noticed G above high C came out very
    easy. Within this same tune a gliss up to a double C fit nicely. Gave it
    a try and no problem! Strong double C with clear tone!! I did this
    several times using my 3S mouthpiece and SuperChops .464. A few weeks
    ago, I mentioned to Jerry that I was shutting off the air at G. He told
    me to keep the tongue far forward. Although at the time, I thought I had
    it far forward, there was room for improvement.
    Once again, Jerry was right. He has the uncanny ability to correct
    problems without seeing you play. I saw Buddy Rich 20 years ago, wish I
    knew Jerry then.
    Michael H. Wittkopp (Lead Trumpet “Big Band of Praise” Grand Haven, MI)”
    Definisi keuletan disini barangkali bisa disamakan dengan keuletan
    kita dalam mengerjakan soal fisika. Ingat bahwa musik juga berasal dari
    teori fisika dan telah dibuktikan oleh Pythagoras (Rowley, 1999).
    Sekedar referensi dalam sejarah, Pythagoras, seorang ahli fisika dari
    bangsa Yunani, meneliti fenomena musik dari monochord (tali/benang yang
    diregangkan dan diikat ujung-ujungnya agar menjadi tegang). Dari
    penelitian tersebut Pythagoras menghitung rasio jarak benang dengan
    interval musik yang didapat. Filosofi yang didapat dari sejarah ini
    mengingatkan saya bahwa ternyata belajar musik itu harus seulet/setekun
    belajar ilmu-ilmu lain. Prof. Deviana Daudsjah (IMD, 2002) mengingatkan
    berkali-kali pada saya bahwa belajar bermain musik itu jauh lebih susah
    ketimbang belajar kedokteran atau ilmu ekonomi. Kenapa? Karena selain
    kita membutuhkan perasaan kita dalam belajar, juga membutuhkan intuisi
    dan logika dalam memainkan alat. Demikian juga dengan melatih nada-nada
    panjang, bermain dengan postur tubuh yang baik, dapat menciptakan suara
    alat tiup yang kita inginkan. Apabila materi latihan telah diberikan,
    namun suara trumpet kita belum maksimal, berarti ada sesuatu hal yang
    perlu kita perbaiki. Jangan berhenti berlatih apabila permasalahan belum
    selesai. “Mengapa tiupan saya suaranya jelek? Karena belum latihan not
    panjang. Mengapa saya belum bisa meniup tinggi? Karena belum latihan
    nada-nada bawah”. Disarankan untuk menggali dan menggali lagi pertanyaan
    dan jawaban yang belum bertemu, serta mencari bahan-bahan dari website
    dan literatur lainnya.
    Setelah para pemain muda sudah mendapat suara-suara dalam alat tiup,
    sekarang tinggal memuluskan suara tersebut, dan ini sangat tergantung
    pada keikutsertaan para senior dalam mendampingi rutinitas junior dalam
    berlatih. Tidak lupa juga bahwa frekuensi kerajinan para senior dalam
    melatih dasar-dasar meniup juga akan dilihat oleh juniornya. Sudah
    banyak pakar alat tiup yang menyarankan agar latihan ambasir dilakukan
    tiap hari 15-30 menit agar bibir lebih fleksibel dalam bergetar. Apabila
    hal tersebut sulit untuk dilakukan, minimal 4 kali dalam 1 minggu
    melatih tiupan, dan lebih difokuskan pada nada-nada bawah agar mencapai
    tone yang baik. Mase (1997), menganjurkan 3 langkah sebagai latihan
    dasar dan rutin
    1. Maintenance (20-30 min.)
    In this part of your practice, try to briefly “hit” as many aspects of
    playing as possible. By doing a routine similar to the one shown on page
    two, you can clearly evaluate what needs to be worked on and what
    doesn’t. Don’t get bogged down in this part of your practice–play many
    different things briefly, and use this information as the basis for what
    will be done in part 2 of your practice.
    2. Specific Technical Practice (60-90 min.)
    Assign specific technical studies for a reason. Put a date on assigned
    material, and do it regularly for 6-10 practice sessions. Keep a record
    of your assigned materials in a notebook, with the date. Try to jot down
    some comments on your practice in this notebook. Go on to new material
    after 6-10 sessions even if the material is not perfected.
    Set modest goals for yourself and achieve them. Setting big goals tends
    to be frustrating. Improvement at anything is done in small steps—not
    big leaps.
    3. Musical (30-45 min.)
    Remember that Nos. 1 & 2 are done for a reason–to perfect a
    technique that will allow us to express ourselves musically in an
    effortless way. Technique should be improved out of a need to have more
    resources to use musically–not just for the sake of improvement. An
    enormous vocabulary is not useful unless we can express thoughts more
    concisely by having it.
    Play easy material regularly and beautifully—without technical
    considerations. If an Arban song or Concone study can be done in this
    way, then more difficult material—like solos and orchestral
    excerpts–will also be able to be played easily with practice. Make
    technique a natural expressive tool, not an end in itself.
    Play with others as often as possible. Music is a social and
    communicative art and we should relate musically to others easily.
    Making music requires more flexibility and thought than practicing, and
    needs to be done regularly.
    Dalam komentar diatas, saya berkesimpulan bahwa latihan tehnik lebih
    dipentingkan sebelum anda dapat bermain. Tidak perlu ngotot mau bermain
    susah, lancarkan dulu yang mudah hingga terbentuk dengan bagus suaranya.
    Melancarkan lip slurs, bermain etude pendek seyogyanya akan membantu
    bibir lebih fleksibel.
    Apabila ketiga ‘K’ telah dilaksanakan, permasalahan selanjutnya
    bermuara pada materi. Para pembaca dapat diasumsikan mengerti bahwa
    materi cara bermain trumpet sudah banyak ditawarkan di website-website
    sekolah musik di Amerika dan Eropa. Namun agar dapat dikondisikan dengan
    materi di Indonesia, focus pembicaraan lebih pada apa yang ada disini.
    Apakah selama ini partitur yang dapat sesuai dengan apa yang mainkan?
    Apakah pemanasan dan latihan yang diberikan pelatih sudah dilaksanakan
    dengan baik? Dan yang penting, apakah semua materi dapat dimengerti dan
    aplikatif dalam melakukan latihan. Semua itu akan dapat dijawab apabila
    para pelatih mempunyai program dan materi yang jelas bagi anak didiknya.
    Dengan asumsi waktu yang cukup untuk latihan, bukannya tidak mungkin
    kalau anak didik akan menguasai lagu dengan cepat, diikuti dengan materi
    yang mendukung. Saya masih beranggapan bahwa “Sebaiknya melatih
    pemanasan dan teknik lebih banyak ketimbang melatih lagu”. Argumen yang
    timbul adalah semakin sering kita melakukan latihan not panjang, tuning,
    ear training, dsb, semakin terbiasa para pemain dalam membaca dan
    memainkan alat. Tentu hal ini juga dilandasi oleh keinginan para pemain
    untuk meng”upgrade” permainannya.
    Marko S. Hermawan
    Reference:
    Callet, J, 2002, Superchops Embouchure Tips,
    website:http://www.callet.com/lesson.htm
    Mase, R., 1997, How to Practice
    website:http://www.geocities.com/Vienna/5905/article5.html
    Rowley, G., 1999, The Book of Music, Chancellor Press, Singapore
    Daudsjah, D., 2002, Institut Musik Daya; conversation session, Jakarta

    Tags: education, marko s hermawan


    link: http://library.marchingband.web.id/2002/06/10/tips3k/

      Waktu sekarang June 22nd 2017, 6:31 pm