Komunitas Marching Band Indonesia

Hai, MB mania.... Selamat Bergabung di forum komunitas marching band ini, Mendaftarnya gampang kok,cukup masukin nama akun yang kamu suka dan password aja. atau gunakan akun facebook kamu untuk login juga bisa.Jangan lupa kasih LIKE juga yaaa dan kamu bisa follow juga networkblognya di facebook cukup dengan klik tombol Follow this blog. just enjoy the forum..!

Login

Lupa password?

MBgaul on facebook

Buat yang ingin dapet kiriman posting terbaru lewat facebook follow aja blognya !

Top posters

Admin (38)
 
emadeus (38)
 
pengrajin_marchingband (34)
 
QuintTommers (27)
 
uyakuya (13)
 
erlina indri (10)
 
nurmuhammad (5)
 
moelyandi (4)
 
adhismart (3)
 
n'cep (3)
 

April 2017

MonTueWedThuFriSatSun
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Calendar Calendar


    Marching Band Bukan Sekedar Main Musik

    Share
    avatar
    redikurniawan
    Komandan Gaul
    Komandan Gaul

    Age : 29
    Lokasi : Jakarta
    Jumlah posting : 1
    Points : 2240
    Reputasi : 0
    Join date : 12.03.11

    Marching Band Bukan Sekedar Main Musik

    Post by redikurniawan on May 8th 2012, 5:54 pm

    Tratap... Dumdum... Tratap... Dumdum... Suara itu terdengar
    bersamaan dengan iringan barisan yang rapi mengisi pawai acara 17
    Agustus-an. Di belakang barisan itu tampak berbaris banyak murid
    sekolah, mulai dari SD, SMP dan SMA dengan berbagai macam pakaian. Lucu
    dan menggemaskan di barisan SD, semangat dan energik di barisan SMP,
    lugas dan dinamis di barisan SMA.

    Bayanganku terhenti sejenak. Tak terasa peristiwa itu masih melekat
    dalam ingatan meski sudah lebih dari satu dekade berlalu. Aku pernah ada
    dalam barisan itu dengan pakaian lengkap TNI Angkatan Laut. Memberi
    hormat kepada masyarakat yang menyaksikan dari sisi jalan, beberapa
    bahkan memotret. Jepret..

    Hingga saat ini yang masih terus menemani hari-hariku adalah suara khas
    Marching Band. Tak kunjung hilang dalam ingatan 15 tahun silam. Saat
    pasukan Drum Band SMK latihan march melewati depan rumahku.
    Keluar dari rumah, aku tak bisa hanya menunggu di trotoar depan. Aku
    ingin suara dentuman dan nyanyian itu lebih dekat dan lebih lama di
    telingaku. Aku berlari menghampiri barisan itu dan terus berjalan dengan
    riang hingga ujung jalan. Entah apa yang menarik saat itu bagiku.
    Kembali ke rumah aku baru sadar tepat saat aku melihat ke bawah, suara
    Drum Band tadi menghipnotisku. Ternyata tadi aku berlarian tanpa alas
    kaki. Yang jelas, aku sangat tertarik dengan permainan mereka yang
    harmonis dengan berbedaan alat musik, kompak dalam barisan. Ingin
    rasanya menjadi bagian dari pemain musik itu.

    Satu Kecamatan saat itu, hanya ada 2 unit Drum Band di kampung
    halamanku. Akhirnya pilihan melanjutkan studiku saat itu tidak jatuh
    pada salah satu dari sekolah itu. Aku lebih tertarik dengan sekolah yang
    jauh dan di sana ada unit Marching Band yang alat musiknya lebih
    variatif. Hal utama yang paling membuatku tertarik memang karena aku
    sangat menyukai musik. Sekedar penikmat musik hingga pemain. Bapakku,
    orang yang paling berjasa dengan doktrin berbagai genre musik. Mulai
    dari kaset hingga tontonannya di TV, aku bisa menilai bahwa dia adalah
    seorang penikmat musik.

    Doktrin itu berhasil. Aku tidak sungkan-sungkan untuk naik ke atas kursi
    dan melompat dengan iringan lagu Si Lumba Lumba-nya Bondan Prakoso.
    Belum lagi kaset Enno Lerian - Si Nyamuk Nakal yang diputar di tape
    recorder jadul. Belum genap usiaku 6 tahun, aku sudah dibelikan keyboard
    mini merk Casio tiga oktaf. Proses belajar hingga bisa sedikit
    memainkan keyboard pun membawaku untuk menemukan seorang yang spesial
    untuk masa depanku.

    Dari beberapa alat musik yang aku bisa mainkan, anehnya hanya tiga yang
    aku pernah punya. Keyboard Casio 15 tahun lalu, harmonika yang hilang
    entah kemana dan gitar murahan yang sudah rusak dan aku hibahkan. Hanya
    ada stik snare drum di lemariku. Guna memperlancar side job dari semester dua saat kuliah, pelatih unit drum band.

    Mulai dari pemain hingga pelatih, aku banyak belajar tentang kehidupan.
    Disiplin, kekompakan, keseimbangan berpikir, konsistensi, tanggungjawab,
    kesetiakawanan dan masih banyak lagi. Saat masih bermain di unit
    Marching Band dulu, di Pondok Madani (begitu Ahmad Fuadi menulisnya di
    novel Negeri 5 Menara), aku bahkan pernah ikut serta di kejuaran tingkat
    nasional. Aku bahkan mampu memperkaya pertemanan, mengasah kemampuan
    sampai berdiri di barisan paling depan sebagai field commander dan drum major. Itulah puncak karirku selama menjadi pemain Marching Band.

    Sampai saat ini, aku menikmati profesi Pelatih Marching Band, walaupun
    masih ada rasa rindu untuk bermain di lapangan. Namun menjadi pelatih
    bukan perkara mudah. Keberhasilan Unit bisa jadi ada di tangan pelatih.
    Paling tidak, profesi ini adalah bukti bahwa aku siap untuk diberi
    tanggungjawab. Bukan untuk ditakuti, justru dengan melatih unit aku bisa
    lebih leluasa untuk belajar lebih banyak lagi tentang musik, khususnya
    marching band.


    Ada satu nilai tambah yang aku pelajari dari insan Marcing Band. Aku
    pernah bermain di kejuaraan, bahkan menjadi pelatih untuk unit yang akan
    ikut serta dalam perlombaan. Sangat banyak pengorbanan individu bahkan
    unit untuk mengikutinya. Pengorbanan materi, fisik, pikiran dan
    perasaan. Semua itu bukan dalam jumlah satuan yang sedikit. Tidak jarang
    satu unit marching band rela melepas dana hingga miliaran demi prestasi
    yang mengagumkan, tanpa ada hadiah berupa materi. Hanya ada tropi
    sebagai bukti prestasi yang bila diuangkan tidak seberapa. Bayangkan
    pengorbanan waktu yang diberikan oleh pemain. Latihan sekali sepekan,
    berlanjut dengan intensif menjelang kejuaraan.

    Menjadi pemenang dalam sebuah kejuaraan marching band adalah sebuah
    tingkat kepuasan paling tinggi bagi pemain, tanpa menghiraukan
    pengorbanan materi semasa latihan. Itulah yang membisikkanku bahwa dalam
    kehidupan ini, kepuasan dan kebahagiaan tak selalu bisa ditawar dengan
    sejumlah materi. Itu bahkan lebih mahal dari apapun, sehingga tak ada
    yang mau menjual kebahagiaan tersebut.




    Penulis : Redi Kurniawan

      Waktu sekarang April 27th 2017, 6:01 am